Mamah Dedeh Terpapar Covid-19, Ini Penjelasan Jubir Satgas Covid-19 Reisa Broto Asmoro

- 19 November 2020, 21:45 WIB
Dedeh Rosidah atau Mamah Dedeh.
Dedeh Rosidah atau Mamah Dedeh. /ANTARA /

POTENSIBISNIS – Dede Rosidah atau yang dikenal dengan nama Mamah Dedeh terpapar  Covid-19 dan harus menjalani perawatan intensif pada salah satu rumah sakit di Depok.

Dengan doa juga perawatan yang tepat, kondisi Mamah Dedeh bisa kembali pulih seperti sediakala.

Apalagi sejak diketahui terpapar, penanganan Mamah Dedeh sudah cukup baik. Termasuk menghubungi petugas kesehatan terdekat dan melaporkan kondisi Mamah Dedeh.

Baca Juga: Momentum Hari Anak Sedunia, Teladani Kisah Monika Soraya Merawat 13 Anak Asuh di Rumah

Ketua Rukun Warga (RW) di sekitar kediaman Mamah Dedeh tinggal, Susanto menjelaskan tentang kondisi Mamah Dedeh pertama kali diketahui dari konfirmasi anaknya.

"Setelah kabar dari amah Dedeh itu, kami selaku pengurus RW melakukan tindakan. Kami melapor ke bagian satgas di Puskesmas. Alhamdulillah mereka respon baik dengan sigap dan langsung mendata," ujar Susanto.

"Kami juga dari pengurus langsung melakukan tindakan mengadakan penyemprotan di rumah Mamah Dedeh," sambungnya.

Baca Juga: Penting untuk Diketahui Berikut 8 Hal yang Bisa Dilakukan Ketika Isolasi Mandiri

Pihak Mamah Dedeh pun meminta doa untuk kesembuhan. Selain doa sebagai senjata utama, virus corona pun bisa hilang dengan ketat menjalankan protokol kesehatan.

Ditempat terpisah, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro bahwa pasien dengan gejala berat sekalipun bisa sembuh dengan cara penanganan yang tepat, dikutip dari laman Covid-19.go.id

"Minimal 3 hari tidak lagi demam dan tidak ada gangguan pernapasan. Untuk kasus pasien dengan gejala berat, bisa saja pasien dipindah ke ruang non-isolasi sebelum dipulangkan atau rawat inap biasa," ucap dr. Reisa Broto Asmoro.

Sedangkan pasien dengan gejala ringan dan sedang harus diobservasi terlebih dahulu dan sudah tidak lagi menunjukkan gejala seperti demam dan gangguan pernapasan.

"Apabila setelah menjalani perawatan di fasilitas kesehatan namun belum mencapai 14 hari, maka tetap harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Dengan syarat tetap membatasi aktivitas dan kontak dengan orang lain," lanjut Reisa.

Khusus pasien asimtomatik atau orang tanpa gejala (OTG), baru bisa dinyatakan selesai isolasi mandirinya selama 10 - 14 hari sejak terkonfirmasi positif. Isolasi mandiri ini pun harus diterapkan dengan disiplin dan tidak boleh lengah.

Ia pun membagikan 7 tips pada pasien COVID-19 tanpa gejala. Pertama, selalu pakai masker selama menjalani isolasi. Cuci sendiri masker kain yang dipakai, apabila menggunakan makssr sekali pakai, langsung bungkus dan  buang ke tempat sampah setelah dipakai.

Kedua, jika ada gejala sakit seperti demam, batuk dan bersin, tetap di tempat isolasi dan tidak bepergian keluar rumah atau tidak meninggalkan tempat isolasi sampai masa isolasi selesai dijalani.

Ketiga, "Beritahu petugas medis tentang keluhan, gejala, serta riwayat bepergian dan apabila ada kontak dengan orang terkonfirmasi positif COVID-19," masih kata Reisa.

Keempat, selama di rumah atau tempat isolasi, kamar harus terpisah dari anggota keluarga lainnya. Dan selalu jaga jarak 1 - 2 meter. Tidak berbagi peralatan makan, mandi dan tempat tidur yang sama dengan anggota keluarga yang lain. 

Kelima, cek kondisi tubuh dengan mengukur suhu, denyut nadi dan tekanan darah. Atur jam keluar ruang terbuka dan berjemur dibawah sinar matahari setiap paginya selama 15 - 30 menit.

Keenam, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, konsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga yang rutin dan teratur, tenangkan pikiran dan tenangkan jiwa.

"Terapkan etika batuk dan bersin dan baik, yakni dengan menutup hidung dan mulut menggunakan siku lengan bagian dalam," Reisa melanjutkan.

Ketujuh, jaga kebersihan dan kesehatan di rumah. Bersihkan seluruh permukaan dengan cairan disinfektan yang tepat sesuai peruntukannya.

"Jika isolasi mandiri tidak dapat dilakukan di rumah, pemerintah menyediakan fasilitas isolasi. Hubungi dinas kesehatan atau satgas setempat, apabila merasa membutuhkan," Reisa melengkapi tipsnya.

Karenanya ia meminta masyarakat meyakini bahwa pasien COVID-19 bisa sembuh kembali. Tetapi tetap waspada selama pandemi masih ada jangan sepelekan penyakit ini.

"Karena mencegah jauh lebih baik, lebih murah dan lebih nyaman. Daripada mengobati. Ingat 3M itulah pencegahan yang terbaik, kompak yuk! Solid bersatu melawan COVID-19, sukseskan 3M, hentikan penularan COVID-19," tutup Reisa. ***

Editor: Muhammad Sadili


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x